Bekasi – Di ruang-ruang kerja yang dingin, di antara deru mesin dan hiruk-pikuk digital, ada detak jantung yang sering kali terabaikan. Perempuan, sang pemikul beban peradaban, kini berdiri di persimpangan antara tuntutan profesionalisme yang kaku dan kodrat biologis yang menuntut ruang, Ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jambur Jawata Function & Hall Jalan Raya Jati Waringin No. 50, Kota Bekasi Pada Rabu, (4/3/2026).
Ranny Fahd Arafiq, melalui posisinya di Komisi IX DPR RI, menyuarakan alarm yang telah lama bergaung dalam sunyi kesehatan pekerja perempuan bukanlah sekadar komoditas kesejahteraan, melainkan fondasi eksistensial bagi keberlanjutan masyarakat, paparnya mengawali pidatonya.
Istri dari Ketua Umum DPP BAPERA ini menilik sejarah secara kontemplatif, perempuan selalu menjadi poros keseimbangan antara domestik dan publik. Namun, dalam struktur industrial modern, poros ini sering dipaksa menanggung beban ganda yang hampir melampaui ambang batas fisik dan psikis.
Secara filosofis, tubuh perempuan bukan sekadar “alat produksi” dalam terminologi ekonomi. Ia adalah organisme kompleks yang memiliki irama sendiri, sebuah siklus yang menuntut pemahaman, bukan sekadar penaklukan demi angka-angka produktivitas.
Analisis kritis menunjukkan bahwa ketimpangan sering terjadi karena kebijakan cenderung bersifat netral gender secara semu, padahal kebutuhan nyata di lapangan sangatlah spesifik dan personal.
Ranny menyoroti bahwa aturan formal, meski penting, hanyalah cangkang kosong tanpa implementasi yang menyentuh realitas keseharian para pekerja.
Mari kita berimajinasi sebuah pabrik atau kantor yang mampu berdenyut selaras dengan irama biologis pekerjanya. Tempat di mana jeda bukan dianggap sebagai kelalaian, melainkan investasi pemulihan, papar pemilik Album Cinta dan Jenaka ini.
Wakil Ketua Umum PP – KPPG ini melihat tantangan yang dihadapi pekerja perempuan bukan hanya tentang jam kerja yang panjang, melainkan akumulasi dari ketegangan emosional yang tak kasat mata, urainya.
Beban aktivitas yang dilakukan secara simultan antara mengelola tanggung jawab rumah tangga dan target korporasi sering kali menciptakan diskoneksi antara kesadaran diri dan kondisi kesehatan fisik.
Kita harus berani bertanya, Apakah peradaban kita sudah cukup dewasa untuk mengakui bahwa produktivitas tanpa kesehatan adalah bentuk eksploitasi tersembunyi?
Akses terhadap layanan kesehatan yang ramah perempuan bukan lagi sebuah kemewahan atau hak istimewa; itu adalah kebutuhan dasar manusia yang fundamental.
Lingkungan kerja, jika dipandang dari sudut pandang psikologis, adalah ekosistem yang menentukan apakah seorang individu akan berkembang atau perlahan layu oleh tekanan.
Ranny menegaskan bahwa perlindungan kesehatan adalah prasyarat mutlak bagi ketenangan mental, yang pada gilirannya akan memicu produktivitas yang jauh lebih organik dan berkelanjutan.
Secara historis, perempuan telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, namun resiliensi ini tidak seharusnya menjadi alasan bagi pihak lain untuk mengabaikan kerentanan mereka.
Kita sering terjebak dalam dikotomi antara menjadi pekerja tangguh atau menjadi individu yang sehat, padahal keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama.
Perhatian spesifik terhadap kesehatan perempuan termasuk kesehatan reproduksi dan stabilitas hormon adalah bentuk apresiasi terhadap martabat manusia di tempat kerja.
Mengabaikan aspek ini berarti kita sedang merobek tatanan sosial dari akar-akarnya, karena kesehatan perempuan adalah kesehatan generasi masa depan.
Pemerintah, sebagai regulator, harus mampu melampaui birokrasi dan masuk ke ruang-ruang diskusi yang lebih substantif terkait realitas pekerja.
Sektor swasta perlu mentransformasi cara pandang mereka, bahwa pekerja yang sehat secara emosional dan fisik adalah aset paling berharga yang tidak bisa dikalkulasi hanya dengan neraca keuangan.
Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha adalah kunci untuk memecahkan “paradoks produktivitas” ini.
Masyarakat, secara kolektif, harus mulai meruntuhkan stigma bahwa mencari kenyamanan kesehatan di tempat kerja adalah tanda kelemahan.
Metaforisnya, kesehatan pekerja perempuan adalah pelumas bagi roda industri jika ia mengering, mesin peradaban akan memanas dan akhirnya berhenti.
Refleksi tajam membawa kita pada kesimpulan bahwa setiap regulasi harus memiliki empati yang terintegrasi di dalamnya.
Tantangan terbesar bukanlah ketersediaan anggaran, melainkan kemauan politik dan ketajaman nurani untuk melihat apa yang selama ini tersembunyi.
Dengan lingkungan kerja yang peduli, perempuan tidak lagi harus memilih antara ambisi karier atau kesehatan pribadi mereka bisa memiliki keduanya.
Kita membutuhkan perubahan paradigma yang sistemik, di mana kebijakan dibuat tidak hanya dengan otak, tetapi juga dengan pemahaman mendalam akan eksistensi manusia.
Inilah saatnya untuk memosisikan perlindungan kesehatan perempuan sebagai agenda utama, bukan pelengkap atau tambahan dalam diskusi ketenagakerjaan.
Ke depan, kolaborasi lintas sektor akan menentukan seberapa jauh kita bisa bergerak menuju peradaban kerja yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, keberhasilan perlindungan kesehatan pekerja perempuan adalah cermin dari seberapa menghargai kita pada kehidupan itu sendiri.
Penutup
Pada akhirnya, memanusiakan ruang kerja bagi perempuan bukan sekadar upaya pemenuhan standar administratif, melainkan sebuah manifestasi kedewasaan peradaban dalam memahami bahwa kesehatan adalah napas dari produktivitas itu sendiri. Ketika sinergi antara regulasi, empati korporasi, dan kesadaran kolektif bersatu, kita sedang merajut masa depan di mana ambisi perempuan tidak lagi harus dibayar dengan pengorbanan tubuh, melainkan didukung oleh ekosistem yang menghargai martabat manusia di atas segala kalkulasi angka, tutup Ranny.
Penulis: A.S.W