Jakarta – Di bawah langit khatulistiwa yang membara, sebuah bangsa besar sedang merenungi takdir geopolitiknya. Indonesia, sang raksasa tidur yang terbangun dalam dekapan belasan ribu pulau, kini menyadari bahwa kedaulatan bukan sekadar garis di atas peta, melainkan sebuah tarikan napas kekuatan yang harus diproyeksikan ke setiap jengkal samudra, tegas Fahd A Rafiq, di Jakarta pada Sabtu, (7/3/2026).
Secara historis, kita adalah anak-anak pelaut yang memudar ingatannya akan asinnya laut. Namun, di bawah arahan strategis yang kini sedang direformasi oleh Presiden Prabowo Subianto muncul sebuah ambisi yang melampaui sekadar retorika, keinginan untuk menghadirkan “benteng terapung” di jantung perairan regional, ujar Ketua Umum DPP BAPERA tersebut.
Kapal induk sebuah nomenklatur yang membangkitkan imajinasi tentang supremasi udara di atas air. Secara teknis, ia adalah pangkalan udara yang menolak untuk diam, sebuah entitas metalik masif yang mengizinkan elang-elang besi lepas landas dari punggung paus baja, membawa pesan tegas tentang eksistensi sebuah bangsa, papar Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini.
Namun, di balik kemegahan visualnya, kapal induk adalah sebuah paradoks ekonomi dan filosofis. Ia menjanjikan proyeksi kekuatan jarak jauh (power projection), namun di saat yang sama, ia menuntut pengorbanan fiskal yang luar biasa besar, sebuah dilema yang mengetuk pintu logika para pengambil kebijakan, cetus suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) tersebut.
Wacana akuisisi Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi babak menarik dalam dialektika ini. Kapal veteran tersebut, meski telah mencicipi masa pensiun, dipandang sebagai jembatan transisi bagi TNI AL untuk memahami kompleksitas operasi udara maritim yang selama ini hanya menjadi angan-angan, jelas Mantan Ketua Umum DPP KNPI ini.
Secara eksistensial, Indonesia memerlukan simbol “respek”. Di tengah ketegangan Laut Cina Selatan dan kepadatan Selat Malaka, kehadiran kapal induk bukan hanya soal taktis militer, melainkan soal pernyataan martabat bahwa kita adalah tuan rumah yang memiliki mata di setiap sudut teras rumahnya sendiri, tutur Mantan Ketua Umum GEMA MKGR itu.
Namun, akal sehat seorang skeptis akan bertanya, apakah kita sedang membeli kekuatan, atau justru sedang membeli beban? Analogi Thailand dengan HTMS Chakri Naruebet menjadi cermin yang dingin, menunjukkan bagaimana sebuah simbol kebanggaan bisa menjadi “gajah putih” yang terbelenggu biaya operasional jutaan dolar, imbuh Pengusaha Muda yang visioner ini.
Di sinilah kecerdasan strategis diuji untuk melampaui ego materialistik. Jika kapal induk baja terlalu mahal untuk dijaga, bukankah Tuhan telah menganugerahi kita dengan 17.000 “kapal induk tak tenggelam” yang terbuat dari karang, tanah, dan bebatuan permanen, tukas sosok Artis dan Seniman tersebut.
Konsep unsinkable aircraft carrier atau pulau sebagai pangkalan adalah sebuah loncatan pemikiran yang kembali ke akar geografis. Pulau-pulau kita adalah platform pertahanan statis yang jika dikelola dengan visi jenius, jauh lebih mematikan dan efisien daripada kapal mana pun yang bisa karam, terang Putra dari Musisi Legend A Rafiq ini.
Fenomena terbaru di jalur tol Sumatera, di mana jet tempur TNI AU mencium aspal jalan raya dalam manuver austere strip, adalah manifestasi dari fleksibilitas berpikir ini. Jalan tol bukan lagi sekadar urat nadi ekonomi, melainkan “landasan pacu cadangan” yang mengaburkan batas antara infrastruktur sipil dan militer, beber Fahd.
Secara filosofis, ini adalah bentuk adaptasi predator yang cerdas. Kita menggunakan apa yang ada, memaksimalkan fungsi ruang, dan menciptakan ketidakpastian bagi lawan. Sebuah strategi yang membumi namun memiliki jangkauan mematikan di udara, ungkanya dengan penuh keyakinan.
Implementasi landasan darurat di berbagai pulau besar seperti Kalimantan, Papua, dan Sulawesi menunjukkan pergeseran paradigma dari pertahanan terpusat menuju pertahanan rakyat semesta yang terfragmentasi namun terintegrasi secara kinetik, sebut Fahd A Rafiq.
Kita harus jujur, ide ini memang terlambat dieksekusi secara masif. Namun, dalam lintasan sejarah, keterlambatan yang disadari lebih baik daripada pengabaian yang berkelanjutan. Transformasi infrastruktur ini adalah investasi jangka panjang untuk mobilitas udara yang tak terduga, tambahnya kemudian.
Melihat dari sudut pandang ekonomi makro, ambisi kapal induk tradisional seharusnya disimpan dalam laci rencana masa depan hingga APBN kita mencapai surplus yang sehat. Memaksakan pengadaan saat ini tanpa keberlanjutan logistik adalah bunuh diri finansial yang akan melukai sektor esensial lainnya, garis bawah tokoh muda tersebut.
Kunci dari kemandirian finansial pertahanan kita sebenarnya terkubur di bawah tanah yakni Logam Tanah Jarang (LTJ) dan mineral strategis. Jika kita mampu mengonversi kekayaan geologis ini menjadi kekuatan tawar ekonomi yang absolut, maka kapal induk bukan lagi sebuah kemewahan, terang Fahd dengan penuh keyakinan.
Strategi pertahanan yang sedang dibangun saat ini adalah tarian antara idealisme dan realisme. Kita memimpikan kapal induk sebagai simbol, namun kita bertindak dengan aspal dan pulau sebagai solusi pragmatis untuk mengamankan kedaulatan di tengah ketidakpastian global, ulasnya secara mendalam.
Dunia sedang menonton bagaimana Indonesia mereformasi doktrin perangnya. Bukan lagi sekadar bertahan di pantai, tapi mulai memikirkan bagaimana cara menyerang balik jika ruang udara dan lautnya dilecehkan oleh kekuatan asing yang merasa lebih besar, seru Fahd A Rafiq.
Dalam kacamata intelijen, taktik menggunakan jalan tol sebagai pangkalan udara sementara adalah pesan psikologis yang kuat. Ia berkata: “Seluruh negeri ini adalah pangkalan perang kami, dan Anda tidak akan pernah tahu dari mana burung besi kami akan muncul,” tandasnya bersemangat.
Kontemplasi atas sejarah maritim mengingatkan kita bahwa Sriwijaya dan Majapahit tidak menguasai laut hanya dengan jumlah kapal, tapi dengan penguasaan titik-titik strategis. Pulau-pulau kita adalah titik-titik tersebut, yang kini sedang dipersenjatai dengan teknologi modern, kutip Fahd.
Bantuan bencana juga menjadi narasi kemanusiaan yang tak terpisahkan. Kapal induk atau pulau yang difungsikan sebagai pangkalan logistik akan menjadi “malaikat penyelamat” saat alam sedang murka, memastikan bantuan medis menjangkau pelosok yang tak tersentuh tangan daratan, renungnya.
Namun, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme infrastruktur semata. Kualitas sumber daya manusia, kecanggihan sistem radar, dan integrasi data antar matra adalah ruh yang akan menghidupkan raga baja dan aspal yang sedang kita bangun ini, tekannya secara substansial.
Jika pada akhirnya Oktober mendatang keputusan tentang kapal induk tradisional diambil, itu harus menjadi keputusan yang matang secara teknokratis, bukan sekadar keputusan politis yang emosional. Sebuah kapal induk memerlukan gugus tugas pelindung yang lengkap, saran Fahd.
Para analis militer tentu memahami bahwa perang modern adalah perang logistik dan informasi. Kapal induk adalah target besar (high-value target), sementara pulau-pulau adalah target yang hampir mustahil untuk dihilangkan dari peta, pungkasnya cerdas.
Oleh karena itu, kombinasi antara mobilitas di laut dan ketangguhan pangkalan di pulau-pulau merupakan simfoni pertahanan yang paling harmonis bagi negara kepulauan. Ini adalah bentuk orkestrasi kekuatan yang menyesuaikan dengan jati diri geografis kita sendiri, simpulnya.
Masyarakat harus memahami bahwa setiap rupiah yang dialokasikan untuk aspal tol yang bisa didarati pesawat, atau untuk perawatan kapal perang, adalah biaya premi asuransi atas perdamaian yang kita nikmati hari ini. Tanpa taring, perdamaian hanyalah sebuah masa tunggu menuju penindasan, peringat Fahd A Rafiq.
Kita sedang bergerak menuju era baru di mana Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton di Selat Malaka. Kita sedang bertransformasi menjadi pemain catur yang memegang kendali atas bidak-bidak di wilayahnya sendiri, dengan kalkulasi yang dingin dan presisi, ucapnya penuh optimisme.
Eksplorasi terhadap mineral tanah jarang akan menjadi game changer. Jika hilirisasi ini berhasil, Indonesia akan memiliki kemandirian industri pertahanan yang mampu menciptakan teknologi sendiri, bukan sekadar membeli barang bekas dari bangsa lain, terangnya secara lugas.
Inilah saatnya bagi kita untuk berpikir melampaui batas-batas konvensional. Strategi “kapal induk pulau” adalah bukti bahwa kecerdasan kolektif bangsa ini mampu melahirkan solusi jenius di tengah keterbatasan anggaran yang ada, kata Fahd.
Pada akhirnya, pertahanan terbaik adalah yang mampu mencegah perang terjadi. Dengan membangun pangkalan udara di setiap pulau dan menyiapkan armada yang tangguh, kita sedang mengirimkan pesan deterrence (penangkalan) kepada siapa pun yang berniat mengusik ketenangan Nusantara, pesannya.
Biarlah cakrawala Indonesia menjadi saksi, bahwa di tanah ini, setiap jengkal jalan adalah landasan pacu, dan setiap pulau adalah benteng yang tak terjatuhkan. Kita tidak hanya sedang membangun militer, kita sedang memahat harga diri sebuah bangsa, tulisnya penuh makna.
Perjalanan ini masih panjang, penuh dengan tantangan teknis dan hambatan birokrasi. Namun, selama api strategis tetap menyala di dada para pemimpin dan rakyatnya, Indonesia akan menemukan jalannya untuk menjadi penguasa sejati di lautannya sendiri, tambah Fahd.
Mari kita tatap masa depan dengan keyakinan, bahwa kedaulatan Indonesia tidak akan pernah bisa ditukar dengan apa pun. Di atas ombak yang bergelora dan aspal yang membentang, kita sedang menulis ulang takdir sebagai bangsa bahari yang perkasa dan disegani dunia, demikian kata Fahd A Rafiq, Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis: A.S.W
