Jakarta – Dinamika pasar kerja di Indonesia tengah berada pada titik nadir yang paradoksal, di mana ledakan demografi justru terjebak dalam labirin birokrasi rekrutmen yang anakronistik dan dekadensial, ungkap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Kamis (16/4/2026).
Fenomena antrean panjang di setiap Job Fair bukan sekadar potret pencarian nafkah, melainkan manifestasi dari kecemasan eksistensial akibat syarat-syarat yang melampaui logika fungsional, seperti batasan usia dan standar fisik yang diskriminatif, tutur Ketua Umum DPP BAPERA tersebut.
Secara filosofis, menetapkan tinggi badan atau kecantikan sebagai prasyarat kerja adalah bentuk reduksi terhadap martabat manusia yang seharusnya dinilai dari kapasitas kerja serta integritasnya, cetus Mantan Ketua Umum PP – AMPG ini.
Jika kita menengok ke arah Barat, negara-negara Eropa telah lama meninggalkan praktik purba ini melalui regulasi anti-diskriminasi yang sangat rigid, memastikan bahwa kompetensi adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di pasar tenaga kerja, pungkas Suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX) itu.
Di Jerman atau Belanda, mencantumkan batasan usia dalam lowongan kerja adalah sebuah pelanggaran hukum, sebuah kontras tajam dengan realitas di tanah air yang masih memuja pemudaan tenaga kerja secara paksa, jelas Mantan Ketua Umum DPP KNPI tersebut.
Lebih dalam mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini melihat, ketimpangan ini menciptakan sekat-sekat imajiner yang menghalangi talenta potensial untuk berkontribusi hanya karena mereka tidak memenuhi kriteria visual yang subjektif dan irelevan dengan produktivitas.
Selain hambatan fisik, labirin administratif seperti tuntutan SKCK, surat keterangan sehat, hingga legalisir ijazah di tahap awal rekrutmen merupakan beban redundansi yang melelahkan bagi para pencari kerja, papar Pengusaha Muda berbakat tersebut.
Proses yang berlapis-lapis ini mencerminkan ketidakpercayaan sistemik terhadap individu, yang sangat berbeda dengan sistem di negara Nordik yang lebih mengedepankan efisiensi melalui blind recruitment, urai sosok yang juga dikenal sebagai Artis dan Seniman itu.
Data menunjukkan bahwa tumpukan berkas fisik hanya berfungsi sebagai filter mekanis untuk memangkas jumlah pelamar yang membeludak, sebuah metode primitif dalam menghadapi era digital yang seharusnya lebih inklusif, kata Putra dari Musisi Legend A Rafiq tersebut.
Kita harus menyadari bahwa dibalik angka-angka pengangguran, terdapat jiwa-jiwa yang sedang mengalami “kapasitas war”, berjuang memperebutkan kesempatan di tengah syarat-syarat yang seringkali tidak masuk di akal, tegas Fahd
Pemerintahan saat ini sebenarnya telah memancangkan target ambisius untuk menciptakan 18,5 hingga 19 juta lapangan kerja baru hingga 2029 guna menyerap angkatan kerja yang terus bertumbuh, bebernya.
Namun, pencapaian target tersebut mustahil terwujud jika fundamental rekrutmen kita masih terbelenggu oleh bias usia dan prosedur administratif yang menyengsarakan rakyat kecil serta pelaku UMKM, tandasnya.
Hilirisasi industri memang menjadi tulang punggung ekonomi, namun tanpa transformasi paradigma dalam manajemen sumber daya manusia, kita hanya akan membangun pabrik tanpa jiwa, analisisnya.
Visi pertumbuhan ekonomi sebesar 8% menuntut akselerasi yang masif, di mana setiap satu persen pertumbuhan harus mampu dikonversi menjadi ratusan ribu lapangan kerja formal dan Informal yang berkualitas, papar Fahd.
Sektor ekonomi kreatif dan digital diproyeksikan menjadi oase baru, namun sektor ini pun rentan terhadap isu kesehatan mental jika tidak dikelola dengan empati dan fleksibilitas yang memadai, paparnya secara mendalam.
Hingga April 2026, data menunjukkan prevalensi gangguan mental di Indonesia telah mencapai titik alarmis, dengan 28 juta warga terindikasi mengalami tekanan psikososial yang signifikan selain itu generasi muda, khususnya Gen Z, berada di garis depan kerentanan ini dengan tingkat burnout mencapai 52% akibat tuntutan untuk selalu terhubung dan berkompetisi secara brutal, selidiknya secara detail.
Kelelahan kronis ini bukan sekadar masalah medis, melainkan dampak dari lingkungan kerja yang overwork, di mana satu dari empat pekerja menghabiskan lebih dari 49 jam per minggu di bawah tekanan, pengamatannya.
Lebih dalam Fahd melihat era digital membawa kutukan berupa information overload dan nomophobia, yang jika berkelindan dengan kesulitan ekonomi, akan menciptakan bom waktu bagi stabilitas sosial kita, prediksinya.
Ketakutan akan kehilangan eksistensi di dunia maya serta perbandingan sosial yang tajam telah meningkatkan angka depresi secara signifikan di kalangan usia produktif, simpulnya.
Maka dari itu, sektor pariwisata harus dilihat bukan sekadar sebagai industri hiburan, melainkan sebagai mekanisme penyembuhan atau healing massal bagi bangsa yang sedang lelah ini, usulnya kepada pemerintah.
Pariwisata berbasis komunitas dapat menjadi motor penggerak ekonomi bawah yang mampu menyerap tenaga kerja lokal tanpa syarat-syarat yang mencekik leher, sarannya.
Rekreasi adalah kebutuhan hakiki manusia untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban profesional dan kesehatan mental keluarga, sebuah aspek yang seringkali luput dari perhitungan kalkulasi ekonomi makro, nilainya.
Para pengusaha dan pelaku UMKM memegang kunci untuk mendobrak kekakuan ini dengan cara memberikan syarat kerja yang lebih manusiawi dan berbasis hasil, bukan sekadar kelengkapan berkas, serunya.
Kita membutuhkan revolusi dalam cara kita memandang tenaga kerja dari sekadar alat produksi menjadi subjek yang memiliki hak untuk berkembang tanpa diskriminasi fisik, tekannya.
Setiap individu yang mendatangi Job Fair membawa harapan besar, ini menjadi kewajiban moral negara serta pengusaha untuk tidak menghancurkan harapan itu dengan birokrasi yang absurd, kecamnya.
Jika kita terus membiarkan standar “berpenampilan menarik, usia, tinggi badan mendominasi kriteria rekrutmen, kita sebenarnya sedang melakukan pemborosan intelektual secara masif terhadap bangsa ini, sindirnya.
Secara ilmiah, tidak ada korelasi langsung antara tinggi badan dengan kemampuan bekerja atau kreativitas dalam memecahkan masalah kompleks di dunia kerja, paparnya.
Intelektualitas dan ketajaman berpikir seharusnya menjadi standar utama, sejalan dengan nilai-nilai sapioseksual yang menghargai kedalaman kognitif di atas segalanya, pikirnya. Kita harus belajar untuk melihat melampaui warna latar belakang pas foto dan mulai fokus pada potensi transformatif yang dibawa oleh setiap pelamar kerja, ajaknya.
Transformasi ini memerlukan keberanian politik untuk menghapus aturan-aturan diskriminatif yang telah lama mendarah daging dalam budaya korporasi kita. Kita harus mendukung pemerintah bahwa 19 juta lapangan kerja bisa diwujudkan, melainkan kenyataan yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali dan syarat yang tidak masuk akal.
Pendidikan vokasi harus benar-benar link and match dengan kebutuhan industri, agar tidak ada lagi penumpukan pengangguran terdidik yang hanya memiliki ijazah tanpa keterampilan yang relevan, jika tidak match bisa ada pelatihan terlebih dahulu, usulnya
Reindustrialisasi harus dibarengi dengan perlindungan terhadap hak-hak dasar pekerja, termasuk hak untuk bekerja dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental mereka, pesannya.
Kita tidak boleh membiarkan masyarakat Indonesia terjebak dalam siklus kelelahan yang mematikan kreativitas dan semangat inovasi bangsa, Bangsa ini harus naik kelas ke level yang lebih tinggi, ajaknya.
Kebahagiaan rakyat adalah indikator kesuksesan ekonomi yang paling hakiki, jauh lebih penting dari pada sekadar angka pertumbuhan yang tidak dirasakan oleh mereka yang mencari kerja, cetusnya.
Mari kita bangun ekosistem usaha yang inklusif, di mana pengusaha muda menjadi pelopor dalam menghargai kemanusiaan di atas formalitas administratif yang usang, ajaknya.
Dunia sedang berubah, dan mereka yang tetap bertahan dengan cara-cara lama yang diskriminatif akan tertinggal oleh zaman yang menuntut kecepatan intelektual dan fleksibilitas mental, ramalnya.
Masa depan Indonesia ada pada kemampuannya untuk mengelola talenta secara adil, memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkarya tanpa perlu merasa cemas akan batas usia yang membayangi.
Kita harus memanusiakan manusia dalam setiap proses pencarian nafkah, karena ekonomi yang sehat bermula dari jiwa-jiwa yang merdeka dan dihargai kapasitasnya,” tutup Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini.
Penulis: A.S.W
