Jakarta,— Seorang ayah lima anak berusia 54 tahun, berinisial JN, ditemukan tewas gantung diri di depan Kamar Mandi di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan usai cekcok dengan istrinya. Tragedi ini, menurut Ranny Fahd A Rafiq, Anggota DPR RI Komisi IX, “bukan sekadar kehilangan individu, melainkan cermin krisis kesehatan mental nasional”,ucapnya di Jakarta pada (2/10/2025).
Anggota DPR RI dapil Jabar 6 memaparkan data Polri telah mencatat 928 kasus bunuh diri sepanjang Januari–Agustus 2024 dengan laki-laki mencapai hampir 77% kasus. Mayoritas korban berusia 26–45 tahun, dan tekanan ekonomi menjadi faktor utama. Aktivis menyebut angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena stigma dan banyak kasus tak dilaporkan, paparnya.
Kasus di Jakarta ini sejalan dengan tren global. WHO memperkirakan lebih dari 700.000 orang bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia. Jepang, Korea Selatan, dan India juga menghadapi lonjakan kasus, dipicu beban ekonomi, isolasi sosial, atau depresi yang tidak tertangani. Di Amerika Serikat, angka bunuh diri melonjak 33% dalam satu dekade terakhir.
Istri dari Fahd A Rafiq ini mendesak pemerintah bertindak lebih dari sekadar retorika tapi dengan memperkuat layanan kesehatan jiwa, memperluas cakupan BPJS untuk perawatan psikiatri, membangun hotline krisis 24 jam, serta menggelar kampanye nasional melawan stigma, tegasnya.
Ranny melihat, angka itu hanyalah “puncak gunung es”. Komunitas Into The Light Indonesia mengungkapkan stigma membuat banyak keluarga memilih bungkam. Banyak kasus tidak tercatat, tidak dilaporkan, bahkan sengaja ditutupi, paparnya
“Yang kita lihat di media hanyalah statistik dingin, padahal di balik itu ada gelombang sunyi yang jauh lebih besar,” kata Ranny.
Kasus JN semakin mengkonfirmasi pola nasional
• Ekonomi & konflik rumah tangga percikan awal tragedi
• Gangguan mental lama tak tertangani detonator yang siap meledak.
• Stigma & minimnya layanan kesehatan jiwamembuat bom itu berdetak lebih cepat.
Ranny melihat data yang lebih luas Indonesia bukanlah anomali. WHO (World Health Organization menyebut bunuh diri sebagai penyebab kematian ke-4 terbesar di dunia untuk kelompok usia 15–29 tahun. Setiap tahun, lebih dari 700.000 orang di dunia bunuh diri.
• Jepang: dikenal dengan fenomena“Aokigahara” atau “hutan bunuh diri”. Meski sudah ada hotline krisis, tekanan sosial dan budaya malu masih membuat angka bunuh diri tinggi, terutama pada laki-laki yang kehilangan pekerjaan.
• Korea Selatan: salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di OECD. Persaingan ekstrem, budaya “harus sukses”, dan cyberbullying memperparah depresi generasi muda.
• Amerika Serikat: dalam satu dekade terakhir, angka bunuh diri melonjak 33%. “Opioid crisis” ikut memperburuk masalah. CDC mencatat, hampir setiap 11 menit ada satu warga AS yang mengakhiri hidup.
• India: beban ekonomi, utang, dan tekanan sosial membuat ribuan petani setiap tahun memilih bunuh diri dengan cara meminum pestisida.
• Prancis & Jerman: bahkan negara dengan sistem kesehatan modern pun tidak kebal. Data Eropa menunjukkan, 1 dari 20 orang dewasa pernah serius mempertimbangkan bunuh diri.
Polanya sama: mental illness + stigma + kurangnya intervensi dini = tragedi berulang.
Dalam Psikologi forensik menamai fenomena ini sebagai “Amok Syndrome”: ledakan kekerasan impulsif yang sering muncul di Asia Tenggara. Dari kasus ayah di Jagakarsa yang membunuh keempat anaknya tahun 2023, hingga JN yang gantung diri, semuanya bagian dari spektrum yang sama yakni gangguan mental berat yang tak pernah mendapat pengobatan memadai.
Delusi, kehilangan kendali emosi, hingga impulsif tanpa logika rasional adalah gejalanya. Tetapi di masyarakat, label yang diberikan hanya satu: “orang gila.”
Ranny merincikan data global yang menunjukkan laki-laki tiga kali lebih mungkin bunuh diri dibanding perempuan. Ranny mengaitkan fenomena ini dengan “maskulinitas yang rapuh.” “Laki-laki seringkali tidak punya ruang untuk menangis, untuk curhat, atau untuk terlihat lemah. Mereka memendam hingga titik jenuh, lalu meledak dalam bentuk kekerasan atau bunuh diri,” jelasnya.
Ranny melihat Di balik itu, ada lapisan lain yakni pengkhianatan, cemburu, tekanan finansial, hingga rasa gagal sebagai kepala keluarga. Semuanya bercampur menjadi racun psikologis yang diam-diam menggerogoti.
Ledakan Statistik: Indonesia dari Tahun ke Tahun
• 2019: 230 kasus tercatat.
• 2020: melonjak jadi 640 kasus (pandemi jadi katalis).
• 2022: 902 kasus.
• 2023: 1.226 kasus (data Polri hingga Desember).
• 2024: mendekati 1.000 kasus hanya dalam 9 bulan. Jika tren ini berlanjut, 2025 bisa mencatat angka tertinggi sepanjang sejarah.
Ranny menekankan kembali, kesehatan mental adalah “soft infrastructure” bangsa. Tanpa itu, bonus demografi bisa jadi bumerang. Ia mendesak pemerintah untuk lakukan penguatan layanan kesehatan jiwa dengan lebih banyak puskesmas mental, psikiater, psikolog komunitas, plus dukungan penuh BPJS.
Kedua. Program intervensi dini→ deteksi di sekolah, musholla, kantor, keluarga.
Ketiga Layanan krisis 24/7<span;> → hotline nasional yang benar-benar responsif, bukan sekadar nomor formalitas.
Ke empat Destigmatisasi besar-besara → kampanye bahwa sakit mental bukan aib.
Ke lima Anggaran nyata<span;> → tidak lagi sekadar wacana dalam pidato pejabat.
Ranny menyebut tragedi Jagakarsa adalah alarm keras. Jika negara masih bungkam, maka setiap rumah di Indonesia sedang duduk di atas bom waktu psikologis, ungkapnya.
Kematian JN adalah jeritan sunyi yang tidak sempat terdengar. Ia bekerja sebagai driver ojol saat “waras”, berjalan kilometer saat “kambuh”, lalu akhirnya menyerah ketika sakit mentalnya tak kunjung tertolong.
Di balik kisahnya, ada pesan global bunuh diri bukan soal lemah iman atau kurang bersyukur. Ini tentang luka psikologis yang dibiarkan bernanah tanpa pengobatan, ungkap Ranny yang tampak kecewa dengan fenomena ini.
Dunia sudah banyak kehilangan akibat “ledakan sunyi” ini. Indonesia tidak boleh menunggu lebih banyak JN berikutnya, tutupnya.
Penulis: A.S.W