Fahd A Rafiq: Refleksi Kemerdekaan Indonesia Ke-80 Membangun Bangsa dan Negeri dengan Visi Jangka Panjang

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

 

Jakarta – Fahd A Rafiq memandang bahwa 17 Agustus HUT Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar perayaan simbolik yang diwarnai kembang api, parade, dan lagu perjuangan. Bagi saya, hari ini adalah titik kontemplasi, momen mengikat janji antara sejarah yang telah ditorehkan oleh para pendiri bangsa dengan masa depan yang harus kita rajut bersama. Kemerdekaan adalah batu loncatan, bukan garis finish, ucapnya di Jakarta pada (17/8/2025).

 

 

Ketua Umum DPP BAPERA ini melihat organisasi kepemudaan ini bukan hanya ruang berhimpun, melainkan wadah transformasi ide menjadi aksi. BAPERA adalah gambaran wajah Indonesia muda yang tidak boleh terjebak pada nostalgia heroik semata, tetapi harus merumuskan strategi untuk menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan kompetisi geopolitik.

 

 

Mantan Ketua Umum PP AMPG menyadari bahwa kekuatan politik anak muda bukan sekadar soal jumlah, tetapi soal kualitas gagasan. Di masa itu, saya belajar bahwa politik bukan hanya soal merebut kekuasaan, melainkan bagaimana menanamkan nilai, membentuk karakter, dan mencetak generasi yang mampu menjaga keberlanjutan bangsa dan negara, paparnya.

 

 

Sebagai Mantan Ketua Umum DPP KNPI, saya melihat denyut nadi pemuda dari Sabang sampai Merauke. KNPI memberi saya lensa luas bahwa kepemudaan adalah tulang punggung demokrasi dan ekonomi bangsa. Saya belajar bahwa pluralitas Indonesia adalah energi yang harus diolah, bukan perbedaan yang dipertentangkan.

 

 

Suami dari Ranny ini( Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar) memahami betapa ruang politik membutuhkan keseimbangan antara idealisme dan realitas. Rumah tangga adalah ruang diskusi ide, bukan sekadar ruang privat, kita harus berbicara tentang kebijakan publik, kesehatan nasib pekerja migran, pendidikan, hingga masa depan energi nasional.

 

 

Mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini belajar bahwa ideologi dan nilai kebangsaan bukanlah pusaka usang yang hanya layak disimpan di rak sejarah. Nilai-nilai itu adalah bahan bakar moral yang harus terus ditafsirkan ulang agar sesuai dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan akar nasionalismenya.

 

 

Sebagai pengusaha muda, Fahd mengerti betapa pentingnya ketahanan ekonomi dalam menopang kedaulatan bangsa. Dunia usaha mengajarkan bahwa keberanian mengambil risiko harus diimbangi dengan perhitungan yang matang. Indonesia butuh wirausahawan yang tidak hanya mengejar laba, tetapi juga memberi makna dan berdampak sistemik bagi masyarakat banyak.

 

Fahd melihat kemerdekaan sebagai proyek peradaban. Ia bukan sekadar cerita 1945, melainkan proses panjang yang harus dijaga dari generasi ke generasi. Jika proklamasi adalah awal, maka pembangunan manusia adalah kelanjutan yang tak pernah selesai.

 

Fahd meyakini bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat merdeka dari ketakutan akan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Dalam refleksi ini, ia melihat kemerdekaan bukan sekadar kebebasan dari penjajah asing, tetapi pembebasan dari segala bentuk keterbelakangan.

 

 

Fahd A Rafiq menilai bahwa bangsa ini sering terjebak dalam euforia simbolik. Perayaan kemerdekaan kerap berhenti pada seremoni, padahal yang paling penting adalah bagaimana momentum itu menjadi kompas strategis untuk merancang Indonesia 2045 sebagai negara maju.

 

 

Fahd A Rafiq percaya bahwa visi jangka panjang adalah inti dari pembangunan bangsa. Tanpa visi, sebuah negara akan berjalan seperti kapal tanpa nakhoda. Visi bukan sekadar dokumen formal, melainkan kesadaran kolektif yang hidup dalam pikiran dan tindakan masyarakatnya.

 

 

 

Fahd mengingatkan bahwa sejarah bangsa ini bukan hanya catatan kemenangan, tetapi juga luka-luka yang harus dipelajari. Dari pergolakan politik, krisis ekonomi, hingga tragedi kemanusiaan, semua menjadi pelajaran bahwa bangsa ini hanya akan kuat jika mampu mengelola masa lalunya dengan bijak.

 

 

Fahd A Rafiq menekankan pentingnya kecerdasan kolektif. Sebuah bangsa besar tidak bisa ditopang oleh satu figur atau satu kelompok saja. Ia membutuhkan sinergi antara negara, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan pemuda.

 

 

Fahd A Rafiq juga menyoroti detail realitas sosial bahwa kesenjangan masih menganga. Indonesia belum benar-benar merdeka jika jurang antara kaya dan miskin semakin lebar. Pembangunan harus berorientasi pada keadilan sosial, bukan sekadar pertumbuhan angka ekonomi, tegasnya

 

Fahd A Rafiq mengamati bahwa dunia hari ini bergerak menuju meaning economy (ekonomi bermakna), Generasi muda tidak hanya mengejar gaji, tetapi juga mencari nilai, tujuan, dan dampak sosial dari pekerjaannya. Indonesia harus menyesuaikan diri dengan paradigma ini dan mengikuti perkembangan zaman dengam segala realitanya secara detail.

 

Fahd A Rafiq melihat geopolitik sebagai ruang baru perjuangan kemerdekaan. Jika dulu bangsa ini melawan kolonialisme militer, kini kita berhadapan dengan kolonialisme digital, dominasi teknologi, dan kontrol data global dan ini menjadi hal yang serius

 

Fahd A Rafiq menekankan pentingnya kedaulatan energi. Bangsa yang merdeka harus mampu mengendalikan sumber daya alamnya, bukan hanya impor bahan mentah dan ekspor bagi industri asing. Indonesia harus mandiri dalam bidang energi agar kelak kedepan tidak terus di Intervensi oleh bangsa lain.

 

Fahd A Rafiq memandang pendidikan sebagai benteng terakhir kemerdekaan. Tanpa pendidikan yang kritis, bangsa ini akan menjadi pasar bagi gagasan impor, bukan produsen gagasan yang membentuk peradaban negerinya sendiri.

 

Fahd A Rafiq menegaskan bahwa revolusi digital tidak boleh membuat pemuda kehilangan akar Nasionalismenya. Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Tujuan utamanya tetap pada penciptaan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab, tekannya.

 

Fahd A Rafiq mengajak pemuda untuk menolak sikap pragmatis. Kemerdekaan harus dijaga dengan keberanian berpikir jauh ke depan, melampaui kepentingan sesaat dan politik elektoral jangka pendek.

 

 

Fahd juga percaya bahwa Indonesia harus merumuskan strategi jangka panjang yang melampaui siklus lima tahunan. Pembangunan bangsa tidak boleh terjebak pada logika proyek politik, melainkan berlandaskan visi peradaban.

 

Fahd A Rafiq menilai bahwa peran diaspora Indonesia di luar negeri juga sangat penting. Mereka adalah jembatan pengetahuan, jaringan, dan diplomasi yang dapat memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

 

 

Fahd menekankan bahwa nasionalisme abad 21 tidak cukup dengan retorika. Nasionalisme hari ini harus diwujudkan dalam produktivitas, inovasi, dan keberanian menghadapi persaingan global, paparnya

 

Jadi, kemerdekaan adalah tentang keberanian bangsa ini menulis takdirnya sendiri. Bukan bergantung pada skenario global, tetapi menciptakan skenario yang lahir dari akar budayanya sendiri.

 

Sebagai dosen di Negeri Jiran, saya tutup refleksi ini dengan satu kesadaran yakni Indonesia bukan sekadar negara berdaulat, tetapi proyek peradaban yang harus dijaga dengan akal, hati, dan karya. Kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan tanggung jawab. Dan visi jangka panjang adalah janji moral kita kepada generasi yang akan datang, tutupnya

 

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita