BAPERA di Garis Depan Mengisi Kemerdekaan dengan Karya Nyata

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jakarta – Fahd El Fouz A Rafiq selalu percaya bahwa kemerdekaan bukanlah garis akhir, melainkan sebuah awal perjalanan panjang bangsa yang menuntut kerja nyata. Proklamasi 1945 adalah pintu pembuka, tetapi bagaimana generasi sesudahnya menafsirkan makna merdeka menjadi persoalan yang lebih besar. Bagi saya, tugas utama anak bangsa bukan lagi hanya mengingat heroisme masa lalu, melainkan menghidupkan roh kemerdekaan itu dalam tindakan-tindakan nyata hari ini , Ucapnya di Jakarta pada Sabtu, (16/8/2025).

 

Ketua Umum BAPERA ini melihat organisasi ini sebagai rumah besar pemuda yang harus menjadi lokomotif pergerakan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Kita tidak bisa hanya berdiri di pinggir sejarah, menonton peristiwa mengalir. BAPERA harus hadir sebagai pelaku sejarah baru, mengisi ruang-ruang kosong dengan program konkret, mulai dari pemberdayaan desa, pelatihan digitalisasi UMKM, hingga mendorong literasi politik yang sehat bagi generasi muda.

 

Ketika saya memimpin PP AMPG, saya belajar bahwa kekuatan anak muda bukan sekadar dalam jumlah, melainkan dalam visi kolektif. Gerakan kepemudaan adalah cermin dari denyut nadi bangsa. Dari pengalaman itu saya mengerti bahwa politik tanpa orientasi kebangsaan hanya akan menjadi ruang kosong yang kehilangan ruh. Maka, penting untuk mengarahkan setiap organisasi yang saya pimpin untuk kembali ke akar yaitu kepentingan rakyat, rakyat yang mana? rakyat  miskin yang selalu terpinggirkan, tegasnya.

 

Mantan Ketua Umum DPP KNPI menyaksikan, bagaimana fragmentasi pemuda sering kali justru melemahkan kekuatan kolektif kita. Dari sana saya belajar, bahwa tugas terbesar bukan hanya merangkul, tetapi juga merekatkan. KNPI memberi saya pelajaran penting perbedaan ideologi, latar belakang, dan kepentingan harus dipertemukan dalam satu titik untuk Ber Indonesia. Itulah mengapa dalam BAPERA, saya mengedepankan semangat inklusif yang menampung beragam energi lintas generasi.

Suami dari anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini memahami bahwa politik bukan sekadar ruang maskulin yang keras, tetapi juga melibatkan kepekaan, empati, dan ketekunan. Disana harus ada perasaan yang jernih. Dari sana kita menyadari politik yang beradab lahir dari manusia yang utuh, yang tidak tercerabut dari akar nilai-nilai keluarga.

Mantan Ketua Umum GEMA MKGR ini belajar arti konsistensi ideologi. Bahwa kaderisasi bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang ditempa oleh kesetiaan pada prinsip dan kerja keras. Ideologi bukan doktrin kaku, melainkan kompas moral yang menjaga arah perjuangan. Dari pengalaman itu saya diajarkan membentuk kerangka berpikir bahwa karya nyata pemuda harus selalu berpijak pada fondasi ideologis yang kokoh agar tidak mudah hanyut oleh arus pragmatisme.

 

Sebagai pengusaha muda, Fahd melihat dunia usaha sebagai laboratorium realitas. Pasar mengajarkan ketekunan, persaingan menuntut strategi, dan krisis menguji daya tahan. Dari dunia ini kita melihat bahwa kemandirian ekonomi adalah tiang utama kemerdekaan. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, kemerdekaan hanya akan menjadi slogan. Karena itu, saya percaya peran BAPERA juga harus menyentuh ranah ekonomi, dengan membuka peluang bagi UMKM, mencetak wirausaha baru, dan memperkuat ekosistem bisnis pemuda.

 

Fahd A Rafiq memahami bahwa sejarah bangsa ini dibangun oleh energi kolektif. Dari sumpah pemuda hingga proklamasi, semua lahir dari keberanian anak muda mengambil risiko. Kini, tugas generasi saat ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengangkat kualitas manusia Indonesia agar mampu bersaing di dunia global.

 

Dalam lanskap sosial hari ini, tantangan terbesar bangsa bukanlah penjajahan fisik, melainkan kolonialisme baru dalam bentuk ketimpangan digital, kesenjangan ekonomi, dan kemiskinan struktural. BAPERA hadir untuk mengintervensi ruang-ruang itu, bukan dengan jargon kosong, tetapi dengan aksi yang terukur seperti membangun pelatihan, memperluas akses pendidikan, dan memperkuat jejaring pemuda di seluruh daerah.

 

Fahd percaya, karya nyata harus memiliki daya jejak. Artinya, sebuah program tidak boleh hanya berhenti pada seremoni, melainkan meninggalkan manfaat jangka panjang. Karena itu, setiap gerakan BAPERA dirancang agar berkelanjutan dari pemberdayaan ekonomi lokal hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.

 

Kemerdekaan sejati, bagi saya adalah kemampuan bangsa untuk berdiri tegak tanpa bergantung pada belas kasih pihak luar. Itulah sebabnya pemberdayaan ekonomi selalu saya tempatkan sebagai agenda utama. Tidak ada kebebasan politik tanpa kemandirian ekonomi.

 

Fahd melihat kemerdekaan sebagai ruang dialektika antara ingatan masa lalu dan tanggung jawab masa kini. Proklamasi adalah ingatan, tetapi pembangunan adalah tanggung jawab. Kedua hal ini harus berjalan seimbang. Jika tidak, kita hanya akan menjadi bangsa yang hidup dari nostalgia, bukan dari penciptaan.

 

Dalam konteks sejarah, kemerdekaan Indonesia adalah hasil dari keberanian menolak tunduk. Maka hari ini, generasi muda harus berani menolak tunduk pada kemalasan, mentalitas instan. Inilah bentuk perlawanan kontemporer yang lebih sulit karena musuhnya tidak kasat mata.

 

BAPERA bukan sekadar organisasi, tetapi sebuah perahu kolektif. Di dalamnya ada tekad, ada solidaritas, ada mimpi-mimpi besar. Perahu ini harus mengarungi samudra zaman yang penuh gelombang, dan nahkoda utamanya adalah visi untuk Indonesia maju.

 

Fahd A Rafiq menolak gagasan bahwa pemuda hari ini apatis. Justru saya melihat banyak energi yang tercerai-berai menunggu untuk disatukan. BAPERA hadir sebagai ruang untuk mengumpulkan energi itu, menjadikannya kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan nyata.

 

Program-program BAPERA lahir dari kebutuhan nyata masyarakat mulai dari aksi sosial di daerah bencana, penyuluhan kesehatan, hingga pendidikan keterampilan bagi anak muda di desa. Semua itu bukan sekadar proyek, melainkan bagian dari cita-cita panjang agar pemuda tidak lagi menjadi objek, tetapi subjek pembangunan.

 

Fahd percaya, sebuah bangsa hanya akan tumbuh besar jika pemudanya berani melampaui zona nyaman. Karena itu, BAPERA mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru, anak-anak muda yang berani mengambil risiko, menciptakan lapangan kerja, dan memberi nilai tambah bagi lingkungannya.

 

Di era digital, kita menghadapi paradoks seperti akses informasi begitu luas, tetapi kualitas literasi kritis rendah serta perbendaharaan kalimat yang kurang menggungah emosi.  BAPERA hadir untuk mengisi celah itu dengan mendorong literasi digital, agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam hoaks dan propaganda semu, melainkan mampu memfilter informasi dengan nalar sehat.

 

Fahd A Rafiq memandang pendidikan bukan sekadar soal kurikulum, tetapi tentang membentuk manusia merdeka. Karena itu, inisiatif BAPERA dalam pendidikan difokuskan untuk membuka kesadaran kritis anak muda, agar mereka berani bertanya, berpikir, dan mencipta. Sudahkah hal ini berjalan secara utuh?

 

Dalam perjalanan Fahd A Rafiq belajar bahwa kepemimpinan bukanlah soal seberapa banyak kita berbicara, melainkan seberapa jauh karya kita dirasakan orang lain. Itulah mengapa saya selalu mendorong agar setiap kader BAPERA menjadi pelaku perubahan di lingkungannya, sekecil apa pun langkahnya.

 

Fahd A Rafiq menerjemahkan dengan sesama, bangsa ini akan menjadi kuat jika setiap pemuda mampu berdiri sebagai pilar. Tidak perlu menunggu besar untuk memberi arti. Sebab, kekuatan bangsa ini justru terletak pada ribuan tindakan kecil yang konsisten.

 

Kebebasan sejati adalah kemampuan memilih jalan dengan kesadaran penuh. Karena itu, saya ingin generasi muda tidak lagi menjadi pengikut buta, melainkan pemimpin yang berpikir kritis, berani berbeda, dan bertanggung jawab pada pilihannya.

 

Sejarah selalu menuntut generasi baru untuk memberi jawaban. Jika generasi 1945 menjawab dengan proklamasi, maka generasi hari ini harus menjawab dengan inovasi. Inilah makna kemerdekaan yang hidup, yang terus berdenyut mengikuti zamannya.

 

Saya percaya, tugas BAPERA bukan hanya melahirkan pemimpin masa depan, tetapi juga membangun manusia yang sadar akan makna keberadaannya. Bahwa kemerdekaan bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab eksistensial untuk memberi arti bagi sesama.

 

 

Dosen di negeri jiran sering melihat bagaimana bangsa lain membangun dengan keseriusan, kedisiplinan, dan visi panjang. Dari sana saya belajar bahwa kemerdekaan tidak boleh diisi dengan euforia kosong, melainkan dengan kerja sistematis.

 

Karena itu, saya mengajak generasi muda Indonesia melalui BAPERA untuk terus berada di garis depan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata yang meninggalkan jejak bagi sejarah, tutupnya.

 

Penulis: A.S.W

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kategori Berita