Jakarta – Di antara deru mesin global dan riuhnya diplomasi antarbangsa, sunyi justru bersarang di jantung representasi Indonesia di Washington DC. Hampir dua tahun berlalu sejak Rosan Roeslani meninggalkan posisinya sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat dan hingga kini, tak ada pengganti resmi yang mengisi kekosongan strategis itu. Sebuah kekosongan yang tak hanya administratif, tapi juga simbolik keheningan dalam percakapan strategis antara dua negara yang kerap bersua dalam simpul sejarah dunia, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Sabtu, (9/8/2025).
Dalam jagat para pemikir absennya sesuatu seringkali lebih bersuara dari pada kehadirannya. Dalam konteks hubungan Indonesia-Amerika, absennya duta besar justru menjadi suara diam yang menggema, menandakan adanya jeda dalam narasi besar diplomasi Nusantara.
Ketua Umum DPP BAPERA yang belakangan aktif mengangkat isu-isu strategis kebangsaan, menyoroti keanehan ini. Ia mengusulkan agar pemerintah segera menunjuk Duta Besar untuk Amerika. Bukan semata soal posisi, melainkan soal harga diri geopolitik Indonesia yang sedang kehilangan artikulasinya di panggung global.
Lebih dalam Mantan Ketum DPP KNPI ini melihat, “Amerika Serikat bukan sekadar negara adidaya, ia adalah sumbu dalam sistem dunia yang saling terkait dari ekonomi, militer, hingga ideologi. Maka, absennya perwakilan Indonesia di sana seolah Indonesia sedang bicara dengan dunia, tapi tanpa suara, paparnya.
Ada yang janggal dan mengganjal dalam relasi ini. Di balik wacana diplomasi dan kerjasama bilateral, terdapat kegelapan lembut dari luka historis yang belum benar-benar sembuh. Seperti peristiwa tahun 1960, ketika Soekarno datang ke Gedung Putih dan Eisenhower menolaknya secara halus namun menyakitkan. Luka itu menjadi catatan tersendiri bagi sejarah diplomasi kita, cetus Fahd.
Selanjutnya Mantan Ketum PP – AMPG ini menganalisa, sejarah memang tidak pernah netral. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah-wajah pengabaian dan harga diri yang terinjak. Ketika D.N. Aidit turut serta dalam kunjungan Soekarno, dunia seolah bergetar oleh simbol seorang komunis menginjak lantai demokrasi. Dan sejak saat itu, bayangan ketidakpercayaan membayangi hubungan kedua negara, terang Fahd.
Kini, kita hidup di zaman yang lebih cair. Tapi bayang-bayang sejarah masih lekat. Apakah kekosongan posisi duta besar ini adalah bentuk kelalaian administratif? Atau ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, penundaan eksistensial atas posisi Indonesia dalam percaturan kekuatan dunia?
Sebagai bangsa yang tengah tumbuh, Indonesia memerlukan artikulasi yang cerdas dan berani. Duta besar bukan sekadar perwakilan, ia adalah narasi. Ia adalah suara yang berbicara dalam bahasa kekuatan, bahasa kerjasama, dan bahasa kehormatan, tegas Suami dari Anggota DPR RI ini.
Disisi lain, mungkin akan melihat ini bukan sekadar soal jabatan kosong, tapi soal makna dari “kehadiran intelektual” dalam ruang geopolitik. Bagaimana mungkin kita bicara tentang poros maritim dunia jika kita sendiri absen di pusat-pusat keputusan global?, kata Fahd sambil mengajak kita untuk merenung.
Dalam konteks relasi luar negeri, waktu bukan sekadar kronologi waktu adalah kredibilitas. Dua tahun tanpa duta besar berarti dua tahun Indonesia berbicara tanpa wajah resmi. Ini bukan sekadar kesalahan diplomasi, ini adalah kekosongan jiwa negara, tegas Fahd.
Di sisi lain, dunia terus bergerak. Tiongkok mempererat jalinan ekonomi dengan Indonesia. Rusia menawarkan kerjasama pertahanan. Sementara Amerika, tampak diam. Mungkinkah ini tanda ketidaksukaan? Ataukah Amerika menunggu sinyal yang tak kunjung datang dari Jakarta?
Di titik ini, kita perlu bertanya secara lebih dalam, Apakah kita sedang kehilangan arah dalam politik luar negeri? Ataukah kita sedang merancang ulang kompas kebijakan kita agar lebih berakar pada kepentingan nasional yang baru?
Fahd melihat dunia internasional bukan sekadar peta negara ia adalah lanskap psikologis dari rasa hormat, persepsi, dan kalkulasi. Ketika Indonesia absen secara simbolik di Washington, kita sedang menyusun narasi ketidakhadiran yang tidak disadari Indonesia, yang tak berbicara.
Ida Bagus Made Bimantara, sang kuasa usaha ad interim, memang menjalankan tugas dengan profesional. Namun, posisi ini hanya bersifat teknis, bukan politis. Dan dalam percaturan global, teknis tak pernah cukup. Dunia membutuhkan wajah, bukan hanya suara.
Fahd A Rafiq, dengan keberaniannya mengangkat kembali urgensi ini. Dalam caranya yang tegas namun rasional, ia seperti membunyikan lonceng di ruang yang terlupakan. Indonesia harus hadir secara utuh, resmi, dan bermartabat di hadapan kekuatan dunia.
Bagi pemikir yang mencintai diskursus, kekosongan ini bukan sekadar kegagapan. Ia adalah titik kosong yang mengundang pemaknaan. Dalam dunia yang serba cepat, siapa yang tidak berbicara akan dilupakan. Dan negara yang tidak diwakili akan disisihkan dari meja perundingan global.
Diplomasi bukan sekadar urusan protokol. Ia adalah seni menjaga martabat. Dalam dunia yang penuh intrik dan tekanan, Duta Besar adalah penjaga jati diri negara. Ia bukan hanya pejabat ia adalah simbol dan harapan.
Indonesia sedang berdiri di persimpangan jalan global. Perang dagang, perubahan iklim, teknologi, dan keamanan regional menuntut kehadiran strategis kita dititik kritis. Washington DC adalah salah satunya.
Fahd A Rafiq melanjutkan lalu mengapa kita diam? Apakah ini bagian dari strategi diam? Ataukah kita sedang tergoda pada poros lain yang lebih menjanjikan? Tiongkok, dengan Belt and Road Initiative-nya? Rusia, dengan tawaran energi dan persenjataan?
Namun bangsa besar tidak bisa hanya memihak. Kita harus bijak dalam menyeimbangkan poros kekuatan dunia. Menjadi jembatan, bukan satelit. Menjadi tuan di negeri sendiri, bukan perpanjangan tangan ideologi manapun.
Kehadiran Duta Besar adalah pesan diam yang kuat. Ia bisa menenangkan krisis, membuka peluang investasi, atau mengangkat citra bangsa di mata global. Maka ketika posisi ini kosong, dunia pun bertanya Di mana Indonesia?
Mungkin inilah saatnya kita membaca ulang sejarah, bukan sebagai arsip masa lalu, tapi sebagai petunjuk masa depan. Soekarno mengajarkan kita tentang harga diri. Kini kita butuh sintesis baru, diplomasi yang cerdas, cepat, dan seimbang.
Fahd A Rafiq hanya menyuarakan apa yang seharusnya menjadi kesadaran kolektif bahwa Indonesia tidak boleh diam dalam percaturan global. Kita harus bersuara, hadir, dan membangun narasi kita sendiri. Dan narasi itu dimulai dari pengisian posisi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.
Sebab, dalam dunia yang terus bicara tanpa henti, diam adalah bentuk kehilangan. Dan kehilangan posisi strategis adalah awal dari lenyapnya makna kebangsaan di panggung internasional. Indonesia harus kembali bicara dengan wajah yang resmi, dengan suara yang bermakna, dan dengan martabat yang tidak bisa ditawar, tutup dosen yang mengajar di Negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W