BAGIAN II
Jakarta – Di atas kertas, bangsa ini berdiri di atas lima sila. Namun di jalanan yang basah darah, Pancasila terasa seperti kitab tua yang terselip di rak usang, dibaca hanya saat upacara, dihafal tanpa dijiwai. Ketika begal menebas masa depan anak muda, ketika pemerkosa melenggang dengan dalih kekuasaan, kita harus bertanya masihkah Pancasila hidup di dada rakyat dan pemimpinnya?, ucap Fahd A Rafiq di Jakarta pada Minggu, (22/6/2025).
Ketum DPP BAPERA Mengatakan, “Kejahatan bukan hanya pelanggaran hukum, tapi pengkhianatan ideologi. Pencurian, penipuan adalah bentuk paling nyata dari runtuhnya sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab. Pemerkosaan adalah penghancuran nilai sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa, karena tak ada Tuhan yang rela diseret ke dalam perbuatan sekeji itu.
Fahd menegaskan, “Ideologi seharusnya menjadi benteng. Tapi jika kriminalitas tumbuh berarti benteng kita telah retak. Di balik angka statistik dan kurva kriminal, ada narasi besar tentang kegagalan kolektif menanamkan nilai kebangsaan yang utuh dalam jiwa warga. Dalam hal ini Siapa yang harus bertanggung jawab?
Mantan Ketum DPP KNPI ini menegaskan, “Pendidikan ideologi yang dahulu begitu kokoh lewat penataran P4, kini direduksi menjadi materi SKI atau PKN tanpa jiwa. Nilai-nilai Pancasila hanya menjadi slogan pada baliho, bukan bara dalam nadi. Maka tak heran jika generasi yang tumbuh, tak punya kompas moral mereka tahu cara menghasilkan uang, tapi tak tahu bagaimana menghargai hidup orang lain, tuturnya
Lebih dalam Fahd melihat Krisis keamanan yang merajalela hari ini adalah cermin retaknya konsensus ideologis. Pancasila tak lagi jadi pagar hidup bersama, tapi hanya menjadi nama gedung lembaga. Inilah saat di mana ideologi harus kembali ditafsirkan sebagai energi hidup, bukan artefak politik masa lalu, ajaknya dengan penuh keyakinan.
Mengapa begal, penipuan dan pencurian bisa merasa bangga saat viral? Mengapa pelaku kekerasan seksual bisa menjadi bintang di platform digital? Ini bukan sekadar krisis hukum, tapi krisis nilai. ketika yang salah tak merasa bersalah, dan yang benar menjadi malu untuk bersuara, tegas mantan Ketum PP-AMPG ini.
Suami dari anggota DPR RI ini mengingatkan, “kita lupa bahwa kejahatan lahir dari kehampaan batin. Dan kehampaan batin muncul ketika masyarakat kehilangan arah ideologis. Pancasila seharusnya menuntun anak bangsa agar memilih kejujuran di tengah tekanan ekonomi, dan memilih hormat kepada sesama di tengah godaan kekuasaan, tuturnya.
Lalu bagaimana solusinya? Apakah dengan merevitalisasi ideologi secara nyata ? Menurut Fahd hal Ini tidak cukup hanya menghidupkan kembali BPIP atau menggelar seminar kebangsaan. Nilai Pancasila harus dijadikan bagian dari proses pembentukan karakter sejak dini di sekolah, di media, di rumah, bahkan di ruang-ruang hiburan, paparnya.
Fahd menegaskan tegaknya keamanan adalah buah dari ideologi yang terinternalisasi. Di negara-negara maju, rendahnya kriminalitas bukan hanya karena kamera pengawas di setiap sudut, tapi karena rakyatnya percaya pada nilai kebersamaan dan tanggung jawab sipil. Kita pun bisa, jika nilai luhur itu kembali hidup dalam sistem dan perilaku.
Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi lelucon pahit saat kesenjangan sosial merajarela. Kejahatan pun muncul sebagai reaksi dari ketidakadilan struktural yang dipelihara. Maka penegakan keadilan adalah bentuk nyata pembelaan ideologis.
Ideologi bukan hanya urusan negara. Ia harus menjadi napas yang kita hirup sehari-hari. Dari pejabat yang memutuskan anggaran, guru yang mengajar murid, hingga sopir ojek yang memilih jujur saat menemukan dompet jatuh. Semua adalah mata rantai dari sebuah ekosistem ideologis yang sehat.
Jika pemimpin hidup mewah dari pajak rakyat, lalu mengajak rakyat menahan lapar demi nasionalisme, maka anak muda akan meniru, tetapi dengan cara bengkok. Ideologi tanpa keteladanan hanya menjadi wacana basi. Di sinilah urgensi restorasi etika elite politik dan birokrasi.
Kita butuh reformasi ideologi yang kontekstual. Pancasila tidak boleh sekadar dibacakan dalam apel pagi, tapi harus ditanamkan lewat kebijakan yang berpihak pada nilai-nilai luhur seperti gotong royong, keadilan, kemanusiaan, dan keberanian melawan kejahatan dalam bentuk apa pun.
Lembaga keagamaan pun tak bisa tinggal diam. Penceramah, pendeta, bhiksu, romo, dan tokoh adat harus menjadi garda terdepan dalam membumikan Pancasila. Bukan dengan ceramah kaku, tapi dengan pendekatan yang membakar semangat cinta tanah air dan memanusiakan manusia itu sendiri.
Media sosial, ruang tempat ideologi bisa gugur atau bangkit, perlu direbut kembali dari para influencer dangkal. Kita perlu menciptakan narasi yang menggugah, konten yang membentuk nilai, dan tokoh publik yang menjadi panutan dalam etika, bukan sekadar sensasi.
Dari sisi militer dan pertahanan, TNI dan Polri harus tampil sebagai penjaga nilai-nilai luhur bangsa. Bukan sekadar alat represif, tapi pembina masyarakat yang mengedepankan pendekatan ideologis bahwa menjadi warga negara adalah kehormatan, bukan sekedar status kewarganegaraan.
Geopolitik hari ini menuntut Indonesia tampil sebagai negara yang kuat bukan hanya secara ekonomi dan militer, tetapi juga secara ideologis. Dunia sedang kacau nilai-nilai individualisme, konsumerisme, dan kekerasan mendominasi. Di sinilah Pancasila harus menjadi mercusuar bukan museum.
Apa jadinya bangsa tanpa ideologi yang hidup? Ia akan menjadi kapal tanpa arah, yang mudah dibajak oleh arus ekstremisme, radikalisme, atau kapitalisme liar. Maka krisis keamanan harus dibaca sebagai alarm bahwa kita perlu membangun kembali benteng ideologi yang telah keropos.
Mari kita ubah cara berpikir keamanan bukan sekadar urusan polisi, tapi cermin dari kesehatan ideologis bangsa. Ketika ideologi diterjemahkan dalam hidup sehari-hari, maka pencurian jadi terasa memalukan, pemerkosaan jadi tak mungkin dibenarkan, dan kejahatan pun kehilangan tempat berpijak.
Pancasila bukan hanya dasar negara ia adalah jiwa bangsa. Saat ia benar-benar hidup di dada tiap anak negeri, saat itulah kita tak butuh pagar kawat berduri, karena setiap orang akan merasa cukup aman dalam pelukan nilai-nilai luhur bangsa. Di sana, Indonesia akan berdiri tegak bukan hanya karena kuat, tetapi karena bermoral dan berideologi, tutup dosen yang mengajar di negeri Jiran ini.
Penulis: A.S.W