Jakarta – Di tengah gemuruh demokrasi yang kadang gaduh dan kehilangan arah, satu suara dari Senayan mengalun tenang namun mengguncang, lewat gema Ranny Fahd A Rafiq. Ia tidak berbicara sekadar menyambung mikrofon kekuasaan, tetapi menukik jauh ke dalam akar sistem. “Kesehatan bukan sekadar layanan, ia adalah nyawa negara,” begitu ujarnya dalam satu rapat dengar pendapat yang menggetarkan ruang parlemen.
Pernyataan yang tak hanya berani, tapi juga lahir dari nurani yang tercerahkan oleh data, penderitaan rakyat, dan keniscayaan perubahan. Indonesia, negeri yang tumbuh dari luka kolonialisme yang berkembang di atas kontradiksi modernitas, menyimpan paradoks yakni jumlah rumah sakit bertambah, tetapi kepercayaan masyarakat justru merosot. Dokter bertambah, tapi keadilan pelayanan menipis. Teknologi medis berkembang, namun krisis etika tak kunjung reda. Dalam kondisi ini, suara Ranny bukan kritik semata, melainkan panggilan untuk revolusi sistemik, tegasnya.
Istri dari Fahd A Rafiq ini melihat sistem kesehatan Indonesia seperti tubuh renta yang ditambal di sana-sini, namun urat nadinya tetap tersumbat oleh ketimpangan dan kapitalisasi yang membunuh nilai kemanusiaan. Di mata Ranny, kesehatan bukan hanya hak, tapi juga martabat, bukan hanya tentang obat, tapi tentang keadilan dan filosofi pelayanan publik. Inilah yang menjadi semangat utama dari apa yang ia sebut sebagai “Revolusi Sistem Kesehatan Indonesia”.
Narasi ini tidak lahir dari ruang kosong. Riset demi riset, laporan WHO, data dari Kemenkes, serta ribuan pengaduan masyarakat menjadi titik pijak. Salah satu temuan yang menggugah Ranny adalah 67% pasien di daerah tertinggal harus menempuh lebih dari 2 jam perjalanan untuk bertemu dokter. Dan lebih dari 45% masyarakat Indonesia membayar layanan kesehatan secara out-of-pocket, mengorbankan tabungan atau menjual aset demi menyembuhkan luka yang semestinya ditanggung negara, paparnya.
“Ini bukan sekadar kegagalan manajemen, tapi kegagalan sistemik. Sistem yang dibangun bukan untuk rakyat, tapi untuk menumpuk kuasa dan komisi,” kata Ranny, suaranya serak karena emosi yang tertahan. Di matanya, sistem kesehatan Indonesia terjebak dalam labirin birokrasi yang lebih mementingkan struktur dari pada makna, lebih sibuk mengejar akreditasi daripada pelayanan.
Ranny tidak hanya bicara teknokrasi. Ia mengajak kita memikirkan ulang apa itu “sehat” dalam konteks berbangsa dan bernegara. Apakah hanya ketiadaan penyakit? Atau kehadiran keadilan, harapan, dan ruang untuk hidup dengan martabat? Dalam nuansa kali ini, ia bertanya: “Apa gunanya negara, bila rakyat harus bertarung sendiri untuk hidup?”
Dalam debat di Senayan, ia menggugat sistem BPJS yang kerap disebut solusi, namun dalam praktiknya justru menjadi sumber frustrasi. Ranny menyebutnya sebagai “asuransi semu dengan cita rasa birokrasi,” di mana rakyat diatur, tapi tidak dilayani. Petugas BPJS pun di lapangan banyak yang kehilangan empati karena dibebani target dan aturan yang kaku.
Ranny tidak anti modernisasi. Ia justru menekankan perlunya teknologi dalam pelayanan medis. Namun baginya, teknologi tanpa hati adalah mesin kematian. Ia mendorong integrasi digitalisasi rumah sakit dengan etika profesi yang diperkuat, bukan dilemahkan. “Dokter hebat bukan hanya yang bisa operasi jantung, tapi yang juga bisa menyentuh jiwa pasien dengan empati.”
Dalam satu forum akademik, ia mengutip Foucault: “Kesehatan bukan hanya kontrol atas tubuh, tapi cara negara mengatur kehidupan.” Dari sana, ia mengusulkan pendekatan baru yakni sistem kesehatan berbasis komunitas, di mana desa memiliki klinik mandiri, kader kesehatan diberdayakan, dan masyarakat dilatih untuk menjadi subjek, bukan objek kebijakan.
Ranny mengajak bangsa ini untuk tidak melupakan akar budaya. Ia menyebut sistem kesehatan nenek moyang yang berbasis gotong royong, jamu, dan kearifan lokal bukan sebagai romantisme, tetapi bagian dari identitas. “Modernisasi jangan sampai memutus ingatan kolektif. Kita perlu rumah sakit yang canggih, tapi juga ruang pemulihan yang menyentuh batin,” ucapnya.
Ranny memandang rumah sakit sebagai tempat suci modern, di mana orang masuk dengan ketakutan dan keluar dengan harapan. Namun bagaimana jika harapan itu dihancurkan oleh praktik malpraktik, suap, atau keengganan dokter menyentuh pasien karena ‘tidak ada biaya’? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ia lemparkan, dan menggema di ruang publik.
Ranny menegaskan, “Kesehatan harus menjadi zona transparansi. Setiap rupiah di sektor ini bukan uang, tapi nyawa.” Ia mendorong sistem audit sosial dan transparansi berbasis teknologi blockchain untuk pengawasan.
Ia pun mendesak perlindungan terhadap tenaga kesehatan. Banyak perawat di daerah yang digaji di bawah UMR. Dokter muda dibebani utang pendidikan hingga ratusan juta. “Bagaimana mungkin kita berharap pelayanan berkualitas dari tenaga medis yang tercekik utang dan tidak dilindungi?” tanyanya.
Bagi Ranny, revolusi ini tidak bisa parsial. Ia menyusun grand design reformasi lima pilar: (1) pemerataan layanan berbasis wilayah (2) penguatan etika dan pendidikan kedokteran (3) pembiayaan kesehatan universal (4) digitalisasi berbasis empati dan (5) partisipasi rakyat dalam pengambilan kebijakan. Setiap pilar tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin dalam arsitektur utuh yang disebutnya Kesehatan Berkeadilan.
Suatu malam, dalam wawancara eksklusif dengan media alternatif, Ranny berkata pelan, “Saya tidak sedang bicara untuk populer. Tapi saya tidak ingin kelak anak dan saudara saya hidup di negeri yang ketika sakit, harus memilih hidup atau jatuh miskin.” Kalimat itu bukan sekadar retorika, tapi suara dari relung kesadaran.
Perjuangan ini tidak sepi dari perlawanan. Ia kerap diintimidasi, direndahkan, bahkan disebut “terlalu idealis untuk dunia politik.” Namun baginya, politik justru harus menjadi tempat bagi idealisme bersemayam. “Kalau kita buang idealisme dari Senayan, maka yang tersisa hanya dagang kuasa,” katanya dengan nada tegas.
Sebagai wanita yang berpikir dengan logis dan pendekatan nurani, Ranny menyentuh medan abstrak yang jarang dijamah politisi yakni kesadaran kolektif. Ia ingin agar rakyat Indonesia bukan hanya sembuh, tapi sadar, bahwa sakit bukan kutukan, tapi cermin sistem. Bahwa negara hadir bukan sebagai penonton penderitaan, tapi pelindung yang penuh kasih.
Dalam diam, saya melihat perjuangan ini seperti menyalakan lilin dalam badai. Namun bukankah revolusi besar selalu dimulai dari api kecil? Ranny adalah api itu. Ia mungkin tidak membakar istana dalam semalam, tapi ia menghangatkan harapan bahwa sistem bisa berubah.
Dari Senayan yang kadang membingungkan, suara Ranny terdengar seperti nyanyian jiwa yang merindukan negara yang sehat, bukan hanya tubuh rakyatnya, tapi juga pikirannya, etikanya, dan politiknya. Revolusi ini bukan tentang pergantian menteri atau program baru, tapi pergantian paradigma dari penguasa menjadi pelayan.
Ranny sedang menulis sejarahnya sendiri sebuah catatan eksistensial tentang bangsa yang ingin sehat, bukan hanya secara medis, tapi secara moral dan filosofis. Di tengah gegap gempita kampanye dan kepentingan oligarki, mungkin suara ini akan tenggelam. Tapi bagi yang mendengar dengan hati dan akal, suara itu akan menjadi gema perubahan.
“Dan jika negeri ini suatu hari sembuh dari sakitnya, maka sejarah akan menuliskan, pernah ada satu perempuan di Senayan yang tak pernah lelah menyembuhkan negeri, bukan dengan kekuasaan, tapi dengan keberanian berpikir.”
Penulis: A.S.W