Bagian II
Jakarta – Kritik dari Annette Mau dan Dr. Media Wahyudi Askar memang tajam secara angka dan retorika, namun jika kita membedahnya melalui lensa yang lain seperti dari kedalaman kearifan, dan perspektif kemanusiaan ini berbeda, ucap Ranny Fahd A Rafiq di Jakarta Jum’at, (27/3/2026).
Sebelumnya Ranny menyampaikan terima kasih banyak atas masukan dan kritikan yang disampaikan oleh Ibu Annette Mau dan Bapak Dr. Media Wahyudi Askar. Kami sangat menghargai setiap aspirasi di era demokrasi ini. Bagi kami, kritik adalah vitamin bagi kebijakan publik agar bisa berjalan lebih sempurna.
Namun, izinkan kami memberikan perspektif yang lebih presisi mengenai mengapa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini menjadi langkah fundamental bagi masa depan Indonesia, ucapnya di awal pembukaan.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar ini mamaparkan, argumen sahabat ini nampak di permukaan karena hanya melihat negara sebagai mesin kalkulator, bukan sebagai sebuah organisme sosial. Saya menggunakan sudut pandang Filsafat, Kritik yang dilemparkan masih terjebak dalam Aritmatika Akuntansi. Disini saya melihat ada kekacauan logika (logical fallacy) dalam pembagian angka tersebut, paparnya dengan tenang.
Istri dari dari Ketua Umum DPP BAPERA ini melihat, Sahabat menyebut angka Rp5,2 juta per keluarga miskin? Itu namanya halusinasi distribusi. Apakah anda ingin membubarkan negara dan mengubahnya menjadi mesin ATM? Negara itu bukan lembaga bagi-bagi amplop di lampu merah, jadi Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah upaya membangun human capital atau sumber daya manusia (SDM), paparnya.
Lebih dalam Wakil Ketua Umum PP- KPPG ini menambahkan Jika Anda berfikir membagikan uang tunai, yang terjadi adalah inflasi lokal dan uang itu akan habis untuk rokok, pulsa, atau kebutuhan konsumtif lain bukan nutrisi otak. MBG adalah ‘intervensi paksa’ terhadap kecerdasan masa depan. Yang jadi pertanyaan sepakat ngak bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas? Kita ketinggalan jauh loh dari bangsa lain atau terus ingin seperti ini? Mau berubah ngak? Menolak MBG dengan alasan ‘kasih uangnya saja’ adalah bukti saudara gagal paham tentang sosiologi konsumsi, sekali lagi saya melihat dari banyak perspektif, ujarnya.
Ranny memaparkan lebih dalam dengan melibatkan TNI/Polri, Itu adalah logistik darurat untuk memastikan efisiensi di daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh vendor yang manja. Berhenti memakai angka untuk membungkus ketidakmampuan dalam membayangkan masa depan intelektual bangsa, ungkapnya.
Melihat Dari perpektif yang lain “Keadilan itu bukan sekadar angka, tapi keberadaan”. akan menyentuh sisi kebijaksanaan dan cara kita memandang “pemberian” sesuai amanah Pancasila dan UUD 1945.
Saudaraku, dalam filsafat keadilan, memberi ikan memang memuaskan lapar hari ini, tapi memastikan anak-anak makan protein adalah investasi pada martabat manusia. Jika kita hanya membagikan (uang tunai), kita membiarkan orang tua memikul beban sendirian dalam ketidaktahuan nutrisi.
Ranny menyampaikan, “Anda Mengatakan MBG tidak bermanfaat bagi stunting hanya karena ia baru dimulai ini sikap yang kurang sabar (istiqomah).
Perubahan biologis manusia tidak secepat menggeser angka di atas kertas. Jangan sampai kebencian kita pada sistem membuat kita buta bahwa ada anak-anak di pelosok yang seumur hidupnya mungkin belum pernah merasakan segelas susu. Jangan biarkan ego intelektual kita merampas hak dasar anak-anak untuk tumbuh sehat atas nama ‘perhitungan ekonomi’ yang kering.”, paparnya.
Disisi lain Bendahara Umum MKGR ini melihat dengan sudut pandang tangan di atas dan tanggung jawab kolektif secara teologis dan kemanusiaan, saya akan menekankan pada esensi pemuliaan manusia Indonesia itu sendiri. Saya seorang muslimah, Di Agama saya Islam mengajarkan bahwa ‘tidak beriman seseorang jika ia kenyang sementara tetangganya lapar. MBG seharusnya dipahami sebagai bentuk ikhtiar kolektif negara untuk memuliakan dan mencerdaskan manusia Indonesia sejak dini, ungkapnya.
Wakil Ketua Umum PP- KPPG ini melihat masalah administrasi atau keterlibatan aparat adalah teknis yang bisa diperbaiki, namun niat untuk memberi makan anak-anak bangsa adalah perbuatan mulia yang selaras dengan nilai agama sesuai sila pertama dan kelima Pancasila.
Kritik yang hanya memfokuskan pada siapa dapat berapa tanpa melihat siapa yang terbantu seringkali terjebak pada sifat materialistik. Jika ada kebocoran, kita perbaiki sistemnya, bukan membubarkan programnya, begitu cara berfikirnya, ungkap Ranny.
Artis dan Seniman ini memaparkan kembali dengan menghasut rakyat di saat menjelang Idul Fitri dengan narasi kemiskinan justru bertentangan dengan semangat kedamaian. Mari kita kawal agar manfaatnya sampai, bukan justru menghentikan niat baik untuk mencerdaskan dan menyehatkan generasi penerus, ungkapnya.
Ranny berpandangan Kritik Annette dan Media Wahyudi jatuh pada tiga titik lemah. Pertama, melihat Kegagalan Sistemik, sahabat menganggap uang tunai lebih baik dari pada asupan nutrisi langsung (padahal nutrisi langsung menjamin standar gizi yang seragam).
Kedua, Ketidakadilan narasi menyamakan logistik negara (TNI/Polri) dengan penindasan, padahal dalam kondisi geografis Indonesia yang sulit, mereka adalah infrastruktur paling siap.
Ketiga Reduksionisme, dengan menyederhanakan masalah stunting dan kecerdasan bangsa hanya menjadi persoalan “bagi-bagi uang” (Cash Transfer), yang secara historis sering kali gagal mengubah kualitas kesehatan jangka panjang, paparnya lebih dalam.
Jika uang Rp5,2 juta itu dibagikan tunai hari ini, apakah Anda bisa menjamin 100% uang itu dibelikan protein untuk anak, dan bukan untuk kebutuhan konsumtif lainnya? Jika tidak bisa menjamin, maka MBG adalah satu-satunya cara negara memastikan nutrisi itu benar-benar masuk ke mulut anak-anak Indonesia, tutup Ranny.
Penulis: A.S.W
